Sejarah Kerajaan Ternate

By On Senin, Februari 4th, 2019 Categories : Sejarah

Sejarah Kerajaan Ternate  – Kerajaan Gapi atau dikenal dengan nama Kerajaan Ternate berdiri pada tahun 1257. Merupakan salah satu dari 4 Kerajaan Islam terbesar yang terletak di Kepulauan Maluku yang pertama kali didirikan oleh Baab Masyhur Mulamo berkuasa antara tahun 1257 s/d 1272 M.

Sebagai salah satu Kerajaan Islam tertua di Nusantara, Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaan sekitar abad ke – 16 karena perdagangan rempah – rempah yang laku terjual dalam skala besar hingga Eropa.

Mengenal Raja – Raja Kerajaan Ternate / Kolano Dan Sultan Ternate

1/Sultan Baab Mashur Malamo (1257 s/d 1277)
2/Sultan Jamin Qadrat (1277 s/d 1284)
3/Sultan Komala Abu Said (1284 s/d 1298)
4/Sultan Bakuku Kalabata (1298 s/d 1304)
5/Sultan Ngara Malamo Komala (1304 s/d 1317)
6/Sultan Patsaranga Malamo (1317 s/d 1322)
7/Sultan Cili Aiya (1322 s/d 1331)
8/Sultan Panji Malamo (1331 s/d 1332)
9/Sultan Syah Alam (1332 s/d 1343)
10/Sultan Tulu Malamo (1343 s/d 1347)
11/Sultan Kie Mabiji (1347 s/d 1350)
12/Sultan Ngolo Macahaya (1350 s/d 1357)
13/Sultan Momole (1357 s/d 1359)
14/Sultan Gapi Malamo I (1359 s/d 1372)
15/Sultan Gapi Baguna I (1372 s/d 1377)
16/Sultan Komala Pulu (1377 s/d 1432)
17/Sultan Marhum (1432 s/d 1486)
18/Sultan Zainal Abidin (1486 s/d 1500)
19/Sultan Bayanullah (1500 s/d 1522)
20/Sultan Hidayatullah (1522 s/d 1529)
21/Sultan Abu Hayat II (1529 s/d 1533)
21/Sultan Tabariji (1533 s/d 1534)
22/Sultan Khairun Jamil (1535 s/d 1570)
23/Sultan Babullah Datu Syah (1570 s/d 1583)
24/Sultan Said Barakat Syah (1583 s/d 1606)
25/Sultan Mudaffar Syah I (1607 s/d 1627)
26/Sultan Hamzah (1627 s/d 1648)
27/Sultan Mandarsyah (1648 s/d 1650 – I)
28/Sultan Manila (1650 s/d 1655)
29/Sultan Mandarsyah (1655 s/d 1675 – II)
30/Sultan Sibori (1675 s/d 1689)
31/Sultan Said Fatahullah (1689 s/d 1714)
32/Amir Iskandar Zulkarnain Syaifuddin (1714s/d 1751)
33/Sultan Ayan Syah (1751 s/d 1754)
34/Sultan Syah Mardan (1755 s/d (1755 s/d 1763)
35/Sultan Jalaluddin (1763 s/d 1774)
36/Sultan Harunsyah (1774 s/d 1781)
37/Sultan Achral (1781 s/d 1796)
38/Sultan Muhammad Yasin (1796 s/d 1801)
39/Sultan Muhammad Ali (1807 s/d 1821)
40/Sultan Muhammad Sarmoli (1821 s/d 1823)
41/Sultan Muhammad Zain (1823 s/d 1859)
42/Sultan Muhammad Arsyad (1859 s/d 1876)
43/Sultan Ayanhar (1879 s/d 1900)
44/Sultan Muhammad Ilham (1900 s/d 1902)
45/Sultan Haji Muhammad Usman Syah (1902 s/d 1915)
46/Sultan Iskandar Muh. Jabir Syah (1929 s/d 1975)
47/Sultan Haji Mudaffar Syah II) (1975 s/d 2015)
 

Awal Mula Berdirinya Kerajaan Ternate

Sejak awal abad ke – 13, Pulau Ternate sudah banyak dikenal dan dikunjungi oleh para pelancong dari lokal bahkan beberapa diantaranya adalah turis asing yang berkunjung ke sini sambil berdagang dengan naik beberapa kapal laut besar. Seperti diketahui bahwa rakyat Ternate merupakan warga ‘eksodus’ berasal dari Halmahera dimana Ternate hanya terdiri dari 4 kampung saja yang masing – masing kampung dipimpin oleh seorang kepala marga disebut ‘Momole’. Mereka dan beberapa anak buahnyalah yang pertama – tama melakukan jamuan untuk pengunjung / turis dan pedagang besar yang datang dari berbagai penjuru dunia guna membeli dan menjual rempah – rempah pilihan.

Rakyat Ternate lama – kelamaan menjadi semakin bervariasi dengan berdatangan pedagang dari Pulau Jawa, Arab, Melayu dan Tionghoa. Nah untuk mengantisipasi kejadian – kejadian tak diinginkan yang bisa merugikan rakyat Ternate karena semakin ramai kunjungan perdagangan dari luar pulau, dikhawatirkan memudahkan para perompak untuk menyisip masuk ke dalam wilayah kekuasaan Ternate, maka oleh Momole diadakanlah sebuah musyawarah besar yang memiliki tujuan untuk membentuk sebuah organisasi lebih kuat dengan cara mengangkat seorang pemimpin tunggal yang berfungsi sebagai raja !

Pada tahun 1257, Momole Ciko dari pemimpin Sampalu berhasil diangkat sebagai ‘kolano’ / raja pertama Kerajaan Ternate bergelar Sultan Baab Mashur Malamo yang berkuasa antara tahun 1257 s/d 1272. Kerajaan Ternate / Kerajaan Gapi terpusat di Kampung Ternate yang di masa depan berkembang menjadi semakin besar dan ramai sehingga oleh rakyatnya disebut juga sebagai Gam Lamo atau sebuah kampung nan besar yang populer dengan sebutan Gamalama yang memiliki pengaruh hingga bagian timur Indonesia khususnya Maluku.

Kunjungan / Kedatangan Islam

Kurang jelas kapan awalnya Islam masuk ke Kerajaan Ternate, namun diketahui bahwa Kolano Marhum adalah raja Kerajaan Ternate pertama yang sah memeluk Agama Islam setelah memperoleh petunjuk dari seorang ulama Islam dari Minangkabau bernama Datu Maulana Husen, adalah seorang murid dari Sunan Giri yang berkunjung ke Ternate sekitar tahun 1465 M.

Berdasarkan atas keterangan tersebut di atas maka dapat dijelaskan bahwa Islam resmi disebarkan ke wilayah Ternate oleh sekelompok ulama dari Melayu dan Jawa namun sumber lain yaitu M. Shaleh Putuhena adalah seorang pedagang besar dari Arab menyebutkan bahwa Islam di Maluku disebarluaskan oleh 3 orang ulama besar masing – masing bernama Syeikh Mansur, Syeikh Umar dan Syeikh Amin.

Dua sumber di atas dapat menyimpulkan keadaan bahwa rakyat Ternate sudah mengenal ajaran Agama Islam sejak abad ke – 13 melalui banyak cara seperti dari sekelompok pedagang besar Arab, tetapi Islam berkembang semakin besar pada abad ke – 15 yang dilakukan melalui pendekatan oleh ulama Melayu dan Jawa di dalam melakukan ‘dakwah’ lebih mudah dipahami sehingga bisa secara langsung diterima oleh masyarakat luas Kerajaan Ternate.

Sultan Marhum  wafat digantikan oleh anaknya bernama Zainal Abidin. Beliaulah yang menyebabkan Islam menjadi agama resmi Kerajaan Ternate, meninggalkan gelar kolano untuk sebutan raja lalu menggantinya dengan istilah sultan. Sultan Zainal Abidin selanjutnya memperdalam ajaran Agama Islam dengan menimba ilmu dan berguru melalui Sunan Giri di Pulau Jawa. Beliau dikenal sebagai Sultan Bualawa / Sultan Cengkih.

Kedatangan / Kunjungan Bangsa Portugal

Pemerintahan Kerajaan Ternate di bawah kekuasaan Sultan Bayanullah / 1500 s/d 1521 semakin mengalami kejayaan dimana pada hari – hari tertentu rakyatnya wajib berbusana adat Ternate secara Islami, kelompok lelaki wajib belajar dan mengetahui tentang teknik pembuatan perahu dilengkapi senjata dari orang – orang Arab atau Turki yang nantinya akan berfungsi untuk memperkuat pasukan tentara Kerajaan Ternate dari ancaman / gangguan kelompok perompak.

Pada masa inilah Ternate mendapatkan kunjungan pertama kali dari Eropa di bawah kepemimpinan Loedwijk de Bartomo / Ludovico Varthema tahun 1506.

Dilanjutkan tahun 1512, Portugal pertama kali berkunjung ke Ternate dengan Fransisco Serrao sebagai pimpinan dimana atas persetujuan sultan maka Portugal diijinkan mendirikan pos – pos dagang pada tempat – tempat strategis Ternate namun lama – kelamaan justru Portugal memperlihatkan gejala ingin menguasai perdagangan rempah – rempah seperti Pala dan Cengkih di Maluku.

Kedekatan Sultan dengan orang – orang Portugis memicu munculnya keresahan yang terjadi di dalam masyarakat Ternate, apalagi pada masa ini Sultan Bayanullah tiba – tiba wafat diduga diracuni oleh orang – orang kepercayaan beliau yang kecewa terhadap kebijakan di atas.

Terjadinya Perang Saudara

Sultan Bayanullah memiliki ahli waris yang masih berusia sangat belia, janda sultan yaitu Permaisuri Nukila dan Pangeran Taruwese, adik almarhum bertindak sebagai wali. Permaisuri Nukila yang berasal dari Tidore berniat menyatukan Ternate dengan Tidore di bawah satu kepemimpinan raja yakni antara salah satu dari kedua puteranya yaitu Pangeran Hidayat dan Pangeran Abu Hayat. Sementara Pangeran Taruwese menghendaki tahta berada di bawah kekuasaannya.

Kondisi di atas memicu terjadinya perang saudara. Kubu Permaisuri Nukila didukung oleh Tidore, sedangkan kubu Pangeran Taruwese didukung oleh Portugal. Pangeran Taruwese memenangkan pertempuran namun justru kelanjutannya beliau dikhianati dan dibunuh oleh Portugal. Gubernur Portugal yang bertindak sebagai penasihat kerajaan sementara memiliki pengaruh kuat dan berhasil mengangkat Pangeran Tabariji sebagai sultan baru. Namun ketika Sultan Tabariji mulai menjauhi Portugal seperti menunjukkan sikap bermusuhan, beliau difitnah lalu ditangkap dan dibuang ke Goa di India. Di sana beliau terpaksa untuk menandatangani surat perjanjian yang menjadikan Kerajaan Ternate sebagai Kerajaan Kristen dan ‘Vasal’ Kerajaan Portugal namun ditolak oleh Sultan Khairun yang menggantikan Sultan Tabariji (1534 s/d 1570).

Perlawanan Terhadap Pemerintahan Portugal

Sultan Khairun memutuskan untuk bertemput mengusir Portugal dari tanah Maluku. Sejak masa kepemimpinan Sultan Bayanullah, Ternate adalah salah satu dari 3 kesultanan terkuat sebagai pusat Islam terbesar di Nusantara pada abad ke – 16 yaitu Aceh dan Demak setelah Malaka jatuh pada tahun 1511. Nah ketiganya membentuk ‘Aliansi Tiga’ guna menghadang sepak terjang pemberontakan dari pasukan Portugal di Nusantara.

Namun nasib sial menimpa Sultan Khairun yang dibunuh secara langsung tanpa pengawal oleh Gubernur Portugal bernama Lopez de Mesquita. Berita pembunuhan tersebut menyebabkan rakyat Ternate terdorong lebih kuat untuk menyingkirkan Portugal di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah (1570 s/d 1583). Setelah melalui peperangan selama 5 tahun, akhirnya Portugal bersedia meninggalkan Maluku untuk selama – lamanya pada tahun 1575. Nah di bawah kekuasaan Sultan Baabullah inilah Kerajaan Ternate mulai berbenah diri dan kembali Berjaya. Wilayah kerajaan membentang dari Sulawesi Utara, Tengah dan bagian Barat hingga Kepulauan Marshall dibagian Timur dari Filipina Selatan dibagian Utara dan Kepulauan Nusa Tenggara dibagian Selatan.

Sultan Baabullah kemudian dijuluki sebagai raja penguasa 72 pulau berpenghuni yang menyebabkan Kesultanan Ternate menjadi salah satu Kerajaan Islam terbesar di Indonesia bagian Timur setelah Aceh dan Demak yang pada waktu itu sukses menguasai wilayah Barat dan Tengah dari Kepulauan Nusantara merupakan periode keemasan tercatat dalam perjalanan sejarah tentang adanya 3 kesultanan besar yang berkuasa pada abad 14 s/d 15 sebagai pilar pertama yang befungsi untuk membendung kolonialisme Barat.

Penjajahan Belanda

Sultan Baabullah wafat, sepeninggal beliau menyebabkan Ternate mulai melemah lalu masuklah pasukan Kerajaan Spanyol yang bersatu dengan Portugal sekitar tahun 1580 mencoba sekali lagi menguasai Maluku dengan menyerang Ternate.

Kedudukan baru terletak di Filipina, Ternate menjalin hubungan aliansi dengan Kerajaan Mindanao guna mengusir pasukan Spanyol – Portugal dari wilayahnya namun gagal. Bahkan Sultan Said Barakati ditawan Spanyol untuk dibuang ke Manila. Kekalahan demi kekalahan diterima oleh Ternate memaksa mereka untuk segera meminta bantuan kepada Belanda di tahun 1603. Ternate berhasil menahan Spanyol namun harus membayar mahal terhadap kemenangan tersebut dimana Belanda secara perlahan – lahan ingin menguasai Ternate.

Pada tanggal 26 Juni 1607, Sultan Ternate yang baru menandatangani surat kontrak monopoli VOC di Maluku dengan imbalan bahwa Belanda akan melawan Spanyol. Pada tahun yang sama Belanda mendirikan sebuah Benteng Oranje di Ternate merupakan salah satu benteng pertahanan pertama milik VOC di Nusantara.

Sejak awal terjalinnya hubungan tak sehat dengan VOC, memicu munculnya rasa tak puas dari para penguasa dan bangsawan Ternate. Salah satunya adalah Pangeran Hidayat merupakan salah seorang Raja Muda Ambon yang pernah menjadi mantan wali Kerajaan Ternate kini memberanikan diri untuk memimpin oposisi guna menentang kekuasaan VOC milik Belanda. Ia mulai mengabaikan aturan dan perjanjian monopoli dagang Belanda dengan menjual hasil bumi berupa rempah – rempah ke pedagang – pedagang dari Jawa dan Makassar.

Jatuhnya Kerajaan Ternate

Selanjutnya, beberapa sultan baru Ternate terus melakukan perjuangan guna melepaskan Ternate dari cengkeraman Belanda dan VOC. Dengan memiliki kemampuan terbatas, mereka berjuang secara diam – diam menyokong rakyatnya untuk tetap semangat bertempur. Yang terakhir pada tahun 1914 adalah perjuangan di bawah kepemimpinan Sultan Haji Muhammad Usman Syah (1896 s/d 1927) namun gagal. Beliau ketahuan dan terbukti melakukan pemberontakan maka dari itu berdasarkan atas keputusan Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 23 September 1915 No. 47, Sultan Haji Muhammad Usman Syah diturunkan dari jabatan sultan dengan seluruh harta kekayaannya disita lalu beliau dibuang ke Bandung pada tahun 1915 dan akhirnya meninggal di tempat yang sama pada tahun 1927.

Pasca turunnya Sultan Haji Muhammad Usman Syah dari jabatan sultan, Kerajaan Ternate dijalankan menurut pemerintahan adat oleh Jogugu dibantu Dewan Kesultanan. Kini dalam usianya yang sudah sangat tua yaitu 750 tahun, Kesultanan Ternate mampu bertahan meskipun hanya sebagai simbol salah satu budaya di Nusantara.

Demikian ulasan kami tentang sejarah Kerajaan Ternate, semoga bermanfaat !

Sejarah Kerajaan Ternate | ilmuhewan | 4.5